Cerita Pilu Gadis Yazidi Yang Dijadikan Budak Seks Oleh Militan ISIS


Seorang bocah perempuan berumur delapan tahun berulang kali dijual dan diperkosa, sedangkan seorang gadis lainnya membakar diri agar terlihat jelek sehingga tidak menarik perhatian para pria yang menculik mereka.

Kisah tersebut bukan terjadi di Indonesia, melainkan terjadi di Irak. Dimana para gadis tersebut adalah anak-anak suku minoritas Yazidi dan para penculik yang memperbudak serta memperkosa mereka adalah para anggota laskar militan ISIS.

Kisah nyata tersebut hanyalah secuil dari lebih 1.400 cerita horor yang diceritakan seorang dokter Jerman bernama Jan Ilhan Kizilhan yang didengarnya dari para wanita dan gadis suku minoritas Yazidi yang diperbudak ISIS di Irak. Ia menceritakan penemuannya tersebut di Jenewa, Swiss.

Kizilhan merupakan pemimpin sebuah proyek yang membawa 1.100 wanita serta gadis Yazidi ke Jerman untuk membantu menyembuhkan luka fisik dan psikologis mereka.

Proyek ini dimulai dengan menerbangkan para korban yang mengalami traumatis berat itu dari Irak utara sejak bulan April 2015 dan kelompok terakhir yang tiba di Jerman mendarat pada bulan Februari 2016 ini.

Rangkaian peristiwa ini dimulai saat tahun 2014 kelompok ISIS mulai menyerang Irak utara, dengan membantai warga Yazidi di desa-desa mereka. Bukan cuma itu saja, kelompok ISIS ini bahkan menculik ribuan gadis dan wanita untuk dipaksa menjadi budak seks. Kengerian akan kebiadaban ini memaksa ribuan warga di daerah tersebut mengungsi.


Kaum minoritas Yazidi yang mengungsi. Paras mereka rupawan sehingga bisa membuat para militan ISIS gelap mata

Menurut rilis resmi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) serangan brutal yang dilakukan ISIS kepada kelompok minoritas Yazidi itu sebagai genosida atau pembasmian etnis yang tak beda dengan yang terjadi di Bosnia pada perang Balkan.

Untuk keperluan trauma healing ini dianggarkan dana 95 juta euro untuk proyek ini. Kizilhan serta timnya diberi tugas untuk mencari dan menentukan para korban yang mendesak untuk ditolong melalui proyek ini.

Berdasarkan data penelitiannya selama di Irak, Kizilhan mengatakan bahwa masih ada sekitar 1.200 wanita dan gadis Yazidi lainnya yang masih diculik ISIS. Diperkirakan masih ada sekitar 3.800 wanita dan gadis Yazidi masih ditawan ISIS, jika mereka tidak berhasil melarikan diri atau tidak dibebaskan.

Kizilhan mengungkapkan bahwa para wanita yang berhasil melarikan diri dari ISIS masuk ke masyarakat yang sangat konservatif di Irak utara yang minim akses ke bantuan psikologis untuk mengatasi trauma berat yang diderita para wanita ini.

"Para perempuan ini sungguh memerlukan perlakuan khusus. Jika kita tidak membantu mereka, lalu siapa?" tanya dia, saat berbicara di sela sebuah konferensi internasional pembela HAM di Jenewa.

Menurut paham ISIS, kaum Yazidi dianggap kafir sehingga "halal" untuk disiksa dan diperkosa. Sayangnya, para wanita yang diperkosa sering dibiarkan hamil lalu ditelantarkan begitu saja. Parahnya lagi, para wanita malang ini (karena kehamilannya dan tidak lagi suci) malahan dianggap sebagai sumber aib oleh sesama anggota kelompok masyarakat Yazidi.

Kepercayaan dan kebudayaan kaum minoritas Yazidi dianggap kafir dan bid'ah oleh ISIS sehingga dianggap halal untuk diperbudak dan diperkosa

Mereka yang diabaikan anggota komunitasnya menjadi melarat dan berisiko jatuh ke prostitusi atau perdagangan narkotika demi mempertahankan hidup mereka. Namun lebih banyak lagi yang bunuh diri, kata Kizilhan.

"Tahun lalu, saya mendokumentasikan lebih dari 20 kasus bunuh diri, tapi ini sungguh fenomena puncak gunung es," katanya. Ia menegaskan bahwa situasi sebenarnya yang tidak terpantau bisa mencapai lebih dari 150 kasus.

Kizilhan menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis Yadizi dalam kamp pengungsi pada Agustus 2015. Gadis ini mengalami luka bakar 80% di tubuhnya. Dengan sedikit bergidik namun serius ia mengatakan, "Anak ini tak punya hidung, tak punya telinga,"


Apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis Yazidi tersebut?

Gadis itu dan saudari-saudarinya ditawan oleh para militan ISIS selama berminggu-minggu. Selama dalam tawanan, mereka berulang kali diperkosa dan disiksa secara fisik dengan kejam sebelum akhirnya mereka berhasil melarikan diri dengan susah payah.

Lalu, pada suatu malam ketika sedang tidur di sebuah kamp pengungsi, gadis yang telah melarikan diri itu bermimpi ada militan ISIS di luar tendanya dan hendak masuk untuk memperkosanya. Karena sangat panik, ia lantas menyiram wajahnya sendiri dengan bensin dan lalu membakarnya. Mengapa gadis malang ini sampai nekat membakar wajahnya sendiri? Rupanya ia melakukan dengan sengaja karena berharap dirinya kelihatan jelek dan tidak menarik lagi sehingga para militan ISIS tidak (berminat) lagi untuk memperkosanya.

Oleh karena itu, Kizilhan bersama timnya segera mengeluarkan gadis ini ke Jerman untuk menyelamatkan nyawanya. Gadis ini kini masih dirawat di sebuah rumah sakit di Jerman setelah menjalani lebih dari selusin kali operasi. Dia masih akan menjalani sekitar 30 operasi kulit dan tulang.

Tiga wanita Yazidi ini mengalami trauma. Mereka mengalami "horor" sebelum meloloskan diri

Kebanyakan gadis dan wanita yang diungsikan ke Jerman ini berusia antara 16 sampai 20 tahun. Yang tertua berusia sekitar 40-an. Sedangkan yang termuda berusia delapan tahun.

Sebagian dari kaum minoritas Yazidi yang mengungsi dari daerah mereka di Irak Utara. Mereka membutuhkan banyak bantuan

"ISIS menjual gadis itu delapan kali selama 10 bulan dijadikan sandera dan memperkosanya ratusan kali," kata Kizilhan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mimik jijik atas perlakuan biadab orang-orang ISIS itu. "Ini adalah salah satu kasus gila yang akan selalu saya ingat."

Karena usianya sangat muda, gadis itu bisa menjadi role model untuk kebijakan Hak Asasi Manusia. Kizilhan berharap gadis itu tidak putus asa dan masih mau melakukan sesuatu hal yang positif untuk masa depannya. Semua korban yang kini berada di negara bagian Baden-Wurttemberg pasti membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka fisik dan kejiwaannya. Mereka akan terus didampingi oleh Pemerintah Jerman tanpa ada batasan waktu hingga mereka bisa sembuh dari trauma fisik dan psikisnya

Menurut Kizilhan, upaya psikoterafi belum akan dimulai sampai 6 bulan ke depan karena khawatir membuat para gadis yang telah melalui neraka ini trauma kembali. Mereka dikondisikan agar merasa aman, nyaman dan tenang. "Mereka memerlukan perasaan aman. Itu tidak mudah mengingat apa yang sudah mereka alami," kata Kizilhan.

(AFP/Daily-Mail/Al-Jazeera-Antara-News/Memobee/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ditulis Oleh : Bukhori Supriyadi Yadi ~ Pada Rabu, 27 Juli 2016

Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel kami yang berjudul Cerita Pilu Gadis Yazidi Yang Dijadikan Budak Seks Oleh Militan ISIS. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Anda dipersilakan copy paste berita ini dengan mencantumkan url sumber : http://abnsnews.blogspot.com/2016/07/cerita-pilu-gadis-yazidi-yang-dijadikan.html

Subscribe for latest Dunia Penuh Berita


0 komentar:

Ikuti Email

PROFIL ABNS